Trakeostomi merupakan tindakan operatif membentuk lubang pada dinding depan trakea dan memasukkan pipa kanul kedalam lubang yang dibentuk sehingga udara bisa masuk dan sekret bisa dibuang. Merupakan tindakan penyelamatan pasien yang mengalami sumbatan jalan nafas. Tergantung pada kondisi seseorang, pemasangan kanul dapat berlangsung secara sementara dan permanen (Puspita & Maskoen, 2019).
Trakeostomi memiliki sejarah panjang dari tahun 3600 SM di masa Mesir kuno, hingga sampai tahun 1960an telah memiliki landasan kuat dalam praktek kedokteran. Saat itu telah menjadi tindakan penyelamatan bukan hanya pada kasus sumbatan jalan nafas saja, namun juga pada kasus trauma kecelakaan dan kasus koma setelah operasi bedah saraf.
Indikasi Trakeostomi
Akses jalan nafas darurat
Akses jalan nafas untuk kasus prolonged ventilator
Sumbatan jalan nafas atas (rongga mulut – laring)
Perlindungan saluran nafas dari resiko aspirasi
Retensi sputum di bronkotrakea.
Khusus pada pasien dengan prolonged ventilator, tindakan trakeostomi akan dipertimbangkan. Waktu pengerjaan biasanya tergantung klinis dan keadaan pasien. Ada dua timing yang populer, yaitu early antara hari kedua sampai sepuluh ventilator, dan late bila tindakan ini dikerjakan setelah 10 hari lebih penggunaan ventilator.
Manfaat Trakeostomi
Mengurangi ruang rugi dead space
Mempermudah penghisapan lendir (suction)
Stabilisasi jalan nafas
Mempermudah weaning (penyapihan) pasien dengan ventilator.
Teknik Trakeostomi
Teknik bedah(Surgical)
Dilakukan di kamar operasi steril dengan cara membuat sayatan horizontal sepanjang 2 cm. Otot tali dan fasia superfisial ditarik ke samping untuk mengekspos kartilago krikoid dan kelenjar tiroid. Tiroid ditarik ke superior atau isthmus diikat tergantung pada anatomi individu. Sayatan horizontal dibuat di antara cincin trakea kedua dan ketiga dan flap trakea berbasis inferior (sayatan berbentuk H terbalik) dijahit ke kulit (flap Björk).
Puntung dari dua cincin yang terbagi ditarik dengan dua klem dan kanul dengan ukuran yang sesuai dimasukkan ke dalam trakea. Otot tali ditarik kembali dengan satu atau dua jahitan dan kulit dijahit secara longgar dengan satu jahitan di kedua sisi kanul. Tabung endotrakeal dilepas, dan kanul dimasukkan dengan visualisasi langsung. Balon dikembangkan kemudian di auskultasi bidang paru untuk memastikan kanul telah berhasil di pasang (Oggiano et al., 2014).
Pasien diposisikan dengan leher ekstensi dan ventilasi dengan FiO2 100%. Tabung endotrakeal ditarik sampai ujungnya setinggi laring subglotis. Krikoid dan cincin trakea pertama diidentifikasi dengan palpasi. Sayatan kulit berukuran 1 – 1,5 cm dibuat dan jarum pengenal kateter dimasukkan ke dalam lumen trakea antara cincin pertama dan kedua (Oggiano et al., 2014).
lama rawat di RS
teknik bedah mempunyai lama rawat yang lebih panjang dibandingkan teknik PDT (Rai et al., 2020)
Durasi tindakan
Teknik PDT memiliki durasi tindakan yang lebih singkat dibanding teknik bedah(Rai et al., 2020)
Perdarahan intra dan post operative
Pada teknik bedah terjadi lebih sering perdarahan dibandingkan teknik PDT(Rai et al., 2020)
Insiden infeksi pasca tindakan
Pada penanda Priocalsitonin, CRP, Skor SOFA, SAPS II tidak nampak perbedaan antara PDT dan teknik bedah (Vargas et al., 2018) Pada kejadian infeksi stoma teknik bedah lebih banyak dibandingkan teknik PDT (Rai et al., 2020)
Perbedaan antara teknik PDT dan Surgical Thracheostomy
Studi berbeda dihasilkan oleh Oggiano et al., yang dipublikasikan dalam jurnal Pulmonologie tahun 2014. Trakeostomi dengan teknik surgical yang dilakukan oleh dokter spesialis berpengalaman dengan jabatan kepala departemen atau setingkatnya memiliki keunggulan dari sisi kejadian komplikasi infeksi, perdarahan intra dan pasca operasi, lama rawat di rumah sakit, weaning ventilator serta proses dekanulasi. Studi tersebut dibandingkan dengan teknik dilatasi perkutan yang dapat dikerjakan oleh dokter pasca sarjana.
Persiapan Tindakan Trakeostomi
Trakeostomi Dilatasi Perkutan sebagai tindakan pengelolaan jalan nafas memiliki resiko morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi sehingga harus dilakukan dengan prinsip 4 aman, yaitu: Aman tim pelaksana, Aman pasien, Aman alat, dan Aman obat (Purwaamidjaja & Maskoen, 2019).
Tim sedang mengerjakan Trakeostomi PDT di ICU
Tim TDP terdiri dari:
Satu orang operator
Satu orang asisten (asisten 1) berada di atas kepala pasien untuk mengelola jalan nafas, suction, menarik sedikit demi sedikit Ett, dan melakukan oral higiene setelah selesai tindakan PDT
Satu orang asisten (asisten 2) untuk membantu pengerjaan trakeostomi; seperti kontrol perdarahan dep dengan kassa steril bila ada perdarahan, setelah wire di masukkan tangan kiri pegang ujung wire, tangan kanan pegang kassa steril dan cubit bagian insersi agar tidak keluar darah.
Aman pasien meliputi inform consent yang telah diberikan kepada keluarga pasien terkait manfaat dan komplikasi yang mungkin terjadi. Mengetahui kondisi penyakit dasar pasien untuk menentukan indikasi dan kontraindikasi TDP, mengetahui anatomi dasar pasien, serta waktu pelaksanaan tindakan pada beberapa pasien yang mungkin berbeda.
Aman alat untuk tindakan TDP meliputi:
Set bedah minor ditambah perlengkapan gaun operasi, lampu kepala, sarung tangan steril, masker, jelly (xylocain jell), silk 2.0 , abocath no 14 dan spuit 5cc.
Set trakeostomi dilatasional perkutan; dilator, wire, jarum insersi.
Set pengelolaan jalan nafas; laringoskop, endotracheal tube, spuit, ambubag (BVM), suction, stetoskop.
Alat penunjang; ventilator, bronkoskopi, monitor, USG.
Set alat PDT dan Kanul PDT diletakkan dekat pasien untuk mempermudah tindakan
Aman obat meliputi
Obat emergensi dipersiapkan untuk mengatasi kegawatdaruratan yang mungkin timbul; epinephrine, sulfas atropin, vasopressor.
Obat sedasi, analgesik, dan pelumpuh otot.
Trakeostomi Dilatasional Pada Pasien Sakit Kritis
Hampir sebagian besar pasien sakit kritis yang masuk ke ICU mengalami gagal nafas dan membutuhkan pengelolaan jalan nafas berupa terapi ventilasi mekanis. Tindakan intubasi endotrakeal sebagai pilihan pertama pasien-pasien yang mengalami sindrome pernafasan tersebut. Masalah kemudian muncul ketika beberapa pasien dengan ventilasi mekanis gagal weaning ataupun pada pasien yang berhasil ekstubasi kemudian mengalami sekuel kedua gagal nafas.
Pasien- pasien dengan penggunaan ventilator jangka panjang melalui selang endotrakeal beresiko mengalami edema laring, ulserasi mukosa, meningkatnya kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP), serta menambah lama rawat dan biaya perawatan. Konversi dari intubasi ke trakeostomi akan memberikan manfaat pada pasien seperti meningkatkan kenyamanan, kebersihan mulut dan sekret yang mudah dikeluarkan, menurunkan resiko VAP, mengurangi penggunaan sedasi, meningkatkan prosentase keberhasilan weaning ventilasi mekanis, serta mengurangi lama rawat di ICU (Lestari & Pratiwi, n.d.).
Terdapat 10 – 24 % pasien di ICU membutuhkan trakeostomi untuk bantuan pernafasan dan weaning yang berkepanjangan. Trakeostomi teknik surgical paling sering di kerjakan di kamar operasi, hingga tahun 1985 Ciaglia et al. memperkenalkan teknik perkutan yang dapat dilakukan secara bedside. Teknik perkutan dikerjakan secara nyaman di tempat tidur pasien tanpa perlu peralatan dan pencahayaan seperti ruang operasi. Teknik perkutan juga dapat menghindari perpindahan pasien sakit kritis ke ruang operasi bila dikerjakan dengan teknik surgical. Sejak teknik perkutan menjadi populer diberbagai negara untuk kebutuhan trakeostomi pasien- pasien di ICU, trakeostomi surgical dilakukan pada kasus kasus sulit bila teknik perkutan merupakan kontraindikasi (Mallick & Bodenham, 2010).
Perawatan Pasca Trakeostomi
Pasien- pasien di ICU dengan treakeostomi yang masih membutuhkan bantuan ventilasi mekanis harus di tangani secara baik dan tepat oleh tim perawatan yang mempunyai pengalaman terlibat dalam tindakan trakeostomi, mengetahui jenis dan ukuran kanul, serta mengetahui fisiologi dan anatomi dasar pernafasan.
Tujuan perawatan kanul trakeostomi
Untuk mencegah sumbatan pipa trakeostomi (plugging)
Untuk mencegah infeksi.
Meningkatkan fungsi pernafasan (ventilasi dan oksigenasi)
Brokial toilet yang efektif.
Mencegah pipa tercabut.
7 langkah perawatan kanul trakeostomi
Pengelolaan kanul dan balon trakeostomi >> Untuk kanul dalam dicuci dan dibersihkan tiap 8 jam atau pershift dan lebih sering dibersihkan jika kotor karena produksi slem kental dan banyak. Jika pasien masih menggunakan ventilator tekanan balon dipertahankan antara 20-25 cmH2O. Balon kanul dapat dikempiskan pada pasien yang sudah tidak menggunakan ventilator.
Penghisapan lendir/ suctioning secara berkala >> Kateter suction dimasukkan ± 8-10 cm selama 10 detik. Tindakan suction dilakukan dengan seefektif mungkin dan hindari terlalu sering suction karena dapat menyebabkan terjadi luka, perdarahan, dan infeksi pada mukosa trakeobronkial.
Perawatan luka stoma >> jaga stoma tetap kering dan bersihkan sehari sekali atau jika lembab dan kotor. Bersihkan tepi luka menggunakan kassa steril dengan cairan NaCL 0,9% atau dengan kassa betadhine. Sedangkan untuk jahitan kanul trakeostomi dibuka pada hari ketujuh.
Perawatan tali kanul trakeostomi >> Tujuan diikat menggunakan tali ini agar kanul trakeostomi tidak keluar sendiri dari tempatnya, atau terlepas secara tidak sengaja seperti pada kondisi batuk ataupun saat pasien tidur dan membuat gerakan yang mengakibatkan kanul terlepas. Menjaga agar tali tidak mudah terlepas, ganti tali ikat kanul tiap 3-7hari atau jika kotor dan basah. Ikatan kanul tidak boleh terlalu kencang, berikan ruang 1-2 jari agar tidak terlalu kencang.
Latihan nafas/ batuk dan bicara >> latihan nafas dengan ventilasi mekanis, latihan manual (tanpa alat bantu, menutup dengan jari), latihan dengan katub atau penutup standar TDP, latihan menggunakan speaking Valve.
Kontrol >> kontrol pasien terpasang trakeostomi dilakukan 1-3 bulan setelah pemasangan. Dicatat tanggal pemasangan, nomor kanul, pada saat kontrol dievaluasi apakah pasien dapat dilakukan dekanul atau harus rekanul. Bila nafas dan reflek batuk pasien telah baik, maka dapat dilakukan dekanulasi. Selama dekanulasi diobservasi pola nafas pasien apakah terjadi distorsi nafas, bila terjadi distorsi nafas maka dikerjakan dekanulasi dengan nomor kanul yang lebih kecil dari sebelumnya. Yang dinilai apakah pasien dapat dekanul atau tidak adalah reflek batuknya, walaupun masih ada produksi sekret sedikit.
Edukasi >> Edukasi kepasien dan keluarganya dapat menggunakan leaflet meliputi perencanaan pasien homecare perawatan kanul, latihan nafas, pemenuhan diit dan gizi pasien, serta tatacara kontrol untuk pasien dengan terpasang kanul trakeostomi.
Speaking valve membantu pasien post Trakeostomi untuk dapat latihan nafas dan berbicara.
Dekanulasi setelah evaluasi batuk efektif yang baik, kemampuan bernafas yang adekuat. Dekanulasi harus segera dikerjakan untuk mengembalikan fungsi fisiologis pasien agar kembali normal. Keseluruhan proses perawatan pasca trakeostomi sampai dekanulasi dipimpin oleh seorang intensivist sebagai kepala tim perawatan.
Persiapan homecare pasien dengan kanul trakeostomi
Langkah ketujuh perawatan trakeostomi adalah edukasi. Inti dari edukasi ini adalah mempersiapkan keluarga agar SIAP dan berani merawat keluarganya yang terpasang kanul trakeostomi saat dirumah. Perawat melatih keluarga untuk bisa mencuci kanul dalam dengan benar, mengganti tali kanul, membersihkan stoma, cara melatih nafas pasien dengan benar, cara suction yang benar dan aman.
Keluarga penerima edukasi adalah mereka yang tinggal serumah dengan pasien atau keluarga yang bersedia menjaga dan merawat pasien saat dirumah. Pertama perawat melakukan edukasi persiapan alat yang diperlukan saat dirumah antara lain; tensi otomatis, termometer, saturasi oksigen portabel, tabung oksigen. Edukasi keluarga untuk menulis dibuku hasil tensi, suhu dan saturasi pasien setiap hari serta kebutuhan oksigen pasien.
Ajarkan keluarga untuk mencuci kanul dalam, kemudian praktik langsung didampingi perawat mulai dari memakai handscoen, mencopot kanul dalam, mencuci kanul dengan NaCL atau air hangat, memasang kembali kanul dalam ke pasien.
Peragakan di depan keluarga cara suction yang benar dan aman saat dirumah. Kemudian keluarga diminta praktik langsung mulai dari cara menghidupkan dan mematikan mesin suction, cara memegang selang suction yang benar, perkiraan kedalaman suction (7-10 cm).
Materi edukasi persiapan homecare ini dapat mencakup; cara mencuci kanul, cara suction yang benar dan aman bagi keluarga, cara merawat stoma, cara mengganti tali kanul, cara pemberian diit melalui sonde/NGT, ajarkan keluarga untuk memandikan dan fisioterapi dada. Materi edukasi pasien trakeostomi persiapan homecare bisa bertambah tergantung pada diagnosa atau penyakit pasien misalnya, pasien DM diajarkan cara periksa mandiri GDS dengan alat.
Trakeostomi di Masa Pandemi Coronavirus
Pasien covid 19 cenderung membutuhkan dukungan oksigenasi yang kontinyu dan berlangsung dalam jangka waktu cukup lama. Perburukan kondisi pernafasan mungkin saja terjadi sehingga membutuhkan ventilasi mekanis. Pasien covid 19 dengan ventilasi mekanis perlu penanganan secara khusus untuk menghindari paparan terhadap petugas kesehatan. Trakeostomi dini saat tes swab PCR positif mungkin dapat meningkatkan resiko transmisi virus. Kebutuhan trakeostomi pasien covid 19 perlu memperhatikan masa inkubasi dan hari mulai timbul gejala sehingga dapat dihindari resiko penularan virus. Keputusan late-trakeostomi lebih disukai karena menghindari resiko transmisi yang tinggi serta pasien covid 19 dengan ventilasi mekanis lebih sulit di weaning dalam waktu dekat.
Zulkifli, Lubis, B., & Purwaamidjaja, D. B. (2019). Perawatan Umum Pasien Pasca Trakeostomi Dilatasi Perkutan. In Trakeostomi Dilatasional Perkutan Pada Pasien Sakit Kritis. Perdatin.
Ciaglia, P., Firsching, R., & Syniec, C. (1985). Elective Percutaneous Dilatational Tracheostomy. Chest, 87(6), 715–719. https://doi.org/10.1378/chest.87.6.715
Mallick, A., & Bodenham, A. R. (2010). Tracheostomy in critically ill patients: European Journal of Anaesthesiology, 27(8), 676–682. https://doi.org/10.1097/EJA.0b013e32833b1ba0
Lestari, M. I., & Pratiwi, A. P. (2019). Pasien Sakit Kritis Dan Trakeostomi Dilatasional Perkutan. In Trakeostomi Dilatasional Perkutan Pada Pasien Sakit Kritis. Perdatin.
Purwaamidjaja, D. B., & Maskoen, T. T. (2019). Persiapan Trakeostomi Dilatasional Perkutan: Empat Aman. In Trakeostomi Dilatasional Perkutan Pada Pasien Sakit Kritis. Perdatin.
Rai, S., Adhikari, S., Bhandari, P., Koirala, K. P., Karmacharya, B., & Yogi, N. (2020). Percutaneous dilatational tracheostomy compared with conventional surgical tracheostomy in neurosurgery intensive care unit. Asian Journal of Medical Sciences, 11(5), 18–23. https://doi.org/10.3126/ajms.v11i5.29465
Vargas, M., Buonanno, P., Giorgiano, L., Sorriento, G., Iacovazzo, C., & Servillo, G. (2018). Comparison between surgical and percutaneous tracheostomy effects on procalcitonin kinetics in critically ill patients. Critical Care, 22(1), 297. https://doi.org/10.1186/s13054-018-2245-0
Oggiano, M., Ewig, S., & Hecker, E. (2014). A Comparison of Percutaneous Dilatational Tracheostomy Versus Conventional Surgical Tracheostomy. Pneumologie, 68(05), 322–328. https://doi.org/10.1055/s-0034-1365198
Puspita, Y., & Maskoen, T. T. (2019). Sejarah Trakeostomi. In Trakeostomi Dilatasional Perkutan Pada Pasien Sakit Kritis. Perdatin.
Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah suatu ukuran yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat berdasarkan tinggi badannya.
Interpreasi EKG merupakan kemampuan khusus yang tidak semua perawat punya. Untuk melakukan interpetasi EKG, perawat perlu mengetahui anatomi dan sistem kelistrikan jantung, ditambah pengetahuan tentang mesin EKG yang digunakan baik setting mesin maupun kertas yang Read more
Gas darah adalah tes laboratorium yang mengukur kadar oksigen, karbon dioksida, dan pH dalam darah arteri. Tes ini sangat penting untuk menilai fungsi paru-paru, keseimbangan asam basa tubuh, dan status metabolisme. Alasan penghambilan gas darah: Read more
2 Comments
Yusmam · 21 Februari 2021 at 20:38
Kalau pasang trakeostoni bisa dicopot tidak?
Asep Tumardi · 25 Februari 2021 at 01:22
Untuk trakeostomi non permanen bisa di lepas (dekanul) biasanya dikerjakan setelah evaluasi pasien.