Asma bronkial adalah penyakit obstruksi saluran pernafasan akibat penyempitan saluran nafas yang sifatnya reversible (penyempitan dapat hilang dengan sendirinya) yang ditandai oleh episode obstruksi pernafasan diantara dua interval asimtomatik . Bronkus menjadi hipereaktif dan menimbulkan gejala berulang berupa sesak nafas, mengi, rasa berat di dada, batuk terutama pada malam hari atau dini hari .

Bronkus pada asma bronkial dan saat normal
Perbedaan bronkus normal dan bronkus pada asma bronkial

Etiologi

Penyebab timbulnya asma belum dapat diketahui secara pasti, meskipun alergi diduga kuat menjadi penyebabnya. Angka kejadian asma pada anak- anak sekitar 10% dan 5% pada orang dewasa. Asma pada anak sebagian besar disebabkan oleh alergi sedangkan pada orang dewasa tidak ditemukan adanya riwayat alergi.

Faktor genetik sering dikaitkan dengan penderita asma yang ketika ditelusuri lebih lanjut ditemukan riwayat sakit yang sama pada keluarga mereka yang lain.

Asma Bronkial ; Penyebab, Gejala dan Pengobatan
Patogenesis asma, sumber jurnal EMJ. 2018;3[4]:111-121

Faktor Resiko

  1. Udara lingkungan yang dingin
  2. Kelelahan
  3. Asap rokok
  4. Emosi yang tidak stabil
  5. Polusi udara
  6. Reaksi alergi

Tanda dan Gejala

  1. Suara nafas mengi atau whezing
  2. Paroxysmal Nocturnal Dyspnea (PND) atau sesak nafas pada malam hari.
  3. Pulsus paradoksus atau dengut nadi melemah saat inspirasi
  4. Sedak nafas, sesak nafas dapat bervariasi dari waktu ke waktu.

Pemeriksaan

  1. Spirometri,
  2. Darah lengkap
  3. Serum IgE
  4. Analisa gas darah
  5. Saturasi oksigen

Pada pasien dengan asma berat sring terjadi hipoksemia dan saturasi oksigen yang turun. Terjadinya obstruksi jalan nafas seperti pada asma yaitu pernafasan dalam dengan ekspirasi yang lebih panjang daripada inspirasi. Pasien bila diukur dengan spirometri dengan hasil peak expiratory volume in 1 second (PEV1) lebih dari 12% atau 200mL setelah pemberian bronkodilator maka mengindikasikan adanya obstruksi saluran nafas yang reversible dan mengarah ke asma. Pemeriksaan serum IgE dapat menunjukkan suatu tanda adanya alergi bila hasil nya lebih dari 100UI.

Klasifikasi Asma

Penggolongan asma berdasarkan gradasinya:

[table “10” not found /]

Terdapat juga penggolongan asma berdasarkan respon tehadap diatesis atopik. Atopik merupakan respon seseorang terhadap protein asing yang sering bermanifestasi berupa rinitis alergika, urtikaria, dan dermatitis.

[table “11” not found /]

Drug Induced Asthma

Adalah penderita asma yang mengalami serangan eksaserbasi bronkokontriksi setelah mengkonsumsi aspirin atau NSAID. Sebanyak 5-20% penderita asma yang biasanya tahan terhadap penggunaan aspirin atau NSAID tanpa terjadi apapun. Asma yang terjadi setelah pemberian penyekat-β dan ACE inhibitor disebut drug induced asthma. Dengan kata lain drug induced asthma ini terjadi pada penderita asma yang tergantung pada steroid.

Excercise-Induced Asthma

Excercise terkadang menimbulkan hiperreaktif sehingga terjadi bronkokontriksi. Pada saat berolahraga volume ventilasi permenitnya akan meningkat, udara luar yang dingin dan kering akan dihumidifikasi oleh epitel trakeobronkial. Namun kemudian epitel trakeobronkial akan menjadi kering dan dingin sehingga menyebabkan bronkokontriksi saluran pernafasan. Bahkan bila seseorang tidak melakukan olahraga namun menghirup udara sebanyak saat berolahraga dapat menimbulkan bronkokontriksi juga.

Occupational Asthma

Serangan occupational asthma sering terjadi di tempat kerja yang banyak terdapat berbagai macam zat (occupational sensitizer). Tenaga kerja yang atopik dapat lebih cepat terkena occupational asthma walaupun non atopik juga dapat terkena bila terpajan oleh occupational sensitizer dalam waktu yang lama.

Penatalaksanaan

Seseorang yang telah mengetahui bahwa dirinya menderita asma sebaiknya memiliki alat peak flow meter. Alat ini berguna untuk mengetahui kemampuan menghembus udara keluar saluran pernafasan. Apabila penderita asma merasa ada perubahan di saluran nafasnya karena cuaca dingin, pilek, ataupun demam maka dapat segera menggunakan peak flow meter untuk mengetahui kemampuan menghempuskan udara nya. Bila angka yang dicapai antara 80-100 % maka tidak perlu khawatir asmanya kambuh namun bila dibawah 80% harus segera meminum obat untuk mencegah asmanya kambuh dan bila kemampuannya hanya dibawah 50% penderita perlu dirawat di rumah sakit. Suplemen oksigen perlu diberikan pada saat asma sedang kampuh dengan memperhatikan kebutuhannya.

Obat anti asma

Ada dua macam obat anti asma, terapi simtomatik:

  1. Relievers yaitu bronkodilator (agonis-β dan teofilin)
  2. Disease modifying therapy atau controller menggunakan obat antiinflamasi (kortikosteroid, kromolin, antileukotrien)

Penggunaan agonis β-2 menyebabkan relaksasi otot polos saluran pernafasan dan menghambat kerja kerja mediator yang dilepas sel mast. Agonis β-2 diberikan secara inhalasi karena lebih efektif dibandingkan pemberian oral, obat ini mempunyai efek samping seperti takikardia, hipokalemia, aritmia, tremor, iskemi miokardial dan asidosis laktat.

Antikolinergik bukan obat asma lini pertama, pada serangan asma berat pemberian obat lini pertama disertai dengan antikolinergik. Obat Ipratropium bromida termasuk antikolinergik yang diberikan secara inhalasi.

Kortikosteroid sangat bermanfaat terhadap pengobatan asma bronkial tetapi efek yang dihasilkan cukup lambat dapat nampak dalam beberapa jam. Oleh karena itu pemberian obat kortikosteroid harus diberikan saat mulai nampak gejala serangan asma. Kortikosteroid yang digunakan adalah metilprednisilon injeksi.

Aminofilin merupakan obat bronkodilator lini kedua untuk asma, obat ini menambah kontraktilitas diafragma, diuresis, mucociliary clereance dan sebagai anti inflamasi.

Status Asmatikus

Serangan asma ringan dapat menjadi berat bila tidak segera ditangani. Status asmatikus adalah istilah untuk menggambarkan keadaan serangan asma yang menjadi berat dan tidak dapat ditanggulangi dengan tatalaksana asma yang biasa.

Status asmatikus harus diberlakukan sebagai kegawatan dan dievaluasi secara kontinu karena dapat mengancam jiwa. Tanda- tanda yang mengancam jiwa pada status asmatikus antara lain:

  1. Pasien tidak mampu menyelesaikan satu kalimat lengkap dalam satu tarikan nafas.
  2. Tidak mampu berdiri dari posisi duduk.
  3. Takipneu, RR lebih dari 25 kali/ menit
  4. HR lebih dari 110 kali/menit.
  5. PEF <40% atau <200L/menit dari predicted atau best obtainable
  6. Pulsus paradoksus >18mmHg
  7. Silent cest pada auskultasi.
  8. Sianosis.
  9. Bradikardia.
  10. Kelelahan dan kesadaran menurun.

Daftar Pustaka

{6609083:URN87HXZ};{6609083:TGMIX7TA} apa default asc 0 5605
Categories: Pulmonologi

0 Comments

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!