Terapi oksigen adalah metode untuk mengatasi hipoksemia dengan cara memberian oksigen tambahan dengan konsentrasi lebih besar dari udara ruangan (room air). Oksigen dapat diberikan melalui selang kanul hidung, mask, atau tube yang dimasukkan ke trakea. Terapi oksigen dapat meningkatkan jumlah oksigen yang diterima oleh paru-paru yang kemudian dibawa oleh darah.
Kondisi yang memerlukan oksigen
- Covid 19
- PPOK (Penyakit Paru Obstruksi Kronik)
- Pneumonia
- Fibrosis Paru
- Serangan Asma berulang
- Cystic Fibrosis
- Sleep Apnea
Cara mengetahui perlu tidaknya terapi oksigen
Secara sederhana apabila seseorang nampak sesak nafas, mengembangkan dada serta nafas dengan cepat maka bisa dipastikan memerlukan oksigen tambahan. Namun sejak adanya pandemi covid 19 yang menyebabkan penderitanya mengalami happy hipoksia, diperlukan alat ukur kebutuhan oksigen yang lebih objektif. Oksimetri dapat membantu mengetahui kadar oksigen seseorang, alat ini mudah digunakan bagi orang non medis. Di rumah sakit penggunaan oksimetri sangat membatu mempercepat tindakan medis sebelum hasil analisa gas darah lengkap pasien keluar.
Tujuan Terapi Oksigen
- Meningkatkan kandungan oksigen dalam darah untuk mencukupi kebutuhan metabolisme aerob dengan target PaO2 >60mmHg, SaO2 94 – 98%, sedangkan pada pasien hipercapnic target SaO2 88 – 92%.
- Mengatasi hipoksemia.
- Menurunkan kerja pernafasan.
- Menurunkan kerja jantung.
Secara umum tujuan terapi oksigen adalah untuk mengoptimalkan oksigenasi jaringan dan meminimalkan asidosis respiratorik.
Tanda dan Gejala Kurang Oksigen
- Sesak nafas
- Nafas cuping hidung
- Denyut jantung meningkat
- Adanya penggunaan otot bantu pernafasan tambahan, retraksi interkostal dan suprasternal
- Keringat dingin
- Gelisah, bingung, kesadaran menurun
- Sianosis pada kondisi berat
Metode Pemberian Oksigen
| Low Flow System | High Flow System |
| kanul nasal | venturi mask |
| simple mask | nasal high flow (HNF) |
| rebreating mask | CPAP |
| non rebreating mask | ventilator |
Evaluasi dan Observasi Terapi Oksigen
- Pola pernafasan pasien
- Tanda Tanda Vital
- Pastikan alat terpasang dengan baik dan benar
- Warna kulit , kuku dan konjungtiva
- Tingkat kesadaran pasien dan status neurologi
- Saturasi oksigen
- Analisa gas darah
Dokumentasi
- Tanggal dan jam pemberian oksigen
- Metode pemberian O2
- Konsentrasi oksigen dan flow
- Observasi pasien
- Catat setiap perubahan terapi dan respon pasien
Terapi Oksigen pada Keadaan Hipoksia
Pada orang dewasa laki-laki membutuhkan kurang lebih 225-250ml oksigen permenit, bila selama 4-6 menit seseorang berhenti bernafas maka akan mengganggu aliran oksigen ke dalam tubuh dan jaringan.
| Sistem | Gejala dan tanda |
|---|---|
| Respirasi | Sesak nafas, sianosis |
| Kardiovaskular | Curah jantung meningkat, palpitasi, takikardia, aritmia, hipotensi, angina, vasodilatasi, syok |
| Sistem saraf pusat | Sakit kepala, perilaku yang tidak sesuai, bingung eforia, delirium, gelisah, edema papil, koma |
| Neuromuskular | Lemah, tremor, hiperrefleks, incoordination |
| Metabolik | Retensi cairan dan kalium, asidosis laktat |
Untuk manifestasi klinik hipoksia cukup bervariasi dan tidak spesifik tergantung pada lamanya hipoksia (akut atau kronik) Manifestasi klinik dapat berupa perubahan status mental/ sikap labil, pusing, dispneu, takipneu, respiratory distress, dan aritmia. Sianosis bisa dianggap sebagai kondisi hipoksia asalkan penderita tidak mengalami anemia. Oksimetri bisa digunakan untuk mengetahui kondisi hipoksia, bila saturasi kurang dari 90% diperkirakan hipoksia dan membutuhkan oksigen.
Selain oksimetri, pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan untuk menentukan hipoksia. Pemeriksaan analisa gas darah dapat memberi gambaran PaO2 , PCO2 serta parameter lainnya.
Dalam pemmberian oksigen harus dipertimbangkan apakah pasien benar-benar membutuhkan oksigen, apakah dibutuhkan oksigen jangka pendek atau terapi oksigen jangka panjang. Pemberian oksigen harus diatur dalam jumlah yang tepat dan dievaluasi agar mendapat manfaat terapi dan menghindari toksisitas.
0 Comments