Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan. Sumber penularan paling cepat adalah melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita tuberkulosis. Kuman tuberkulosis paling sering menyerang organ paru- paru walaupun dapat menyerang organ lainnya.
gambar radiologi tuberkulosis setelah dan sesudah pengobatan, sumber: Pulmonary Tuberculosis: Role of Radiology in Diagnosis and Management DOI: 10.1148/rg.2017160032
Klasifikasi Tuberkulosis
Tuberkulosis dibagi dalam beberapa klasifikasi, yaitu:
Berdasarkan organ tubuh yang di infeksi: Tuberkulosis paru (di jaringan parenkim paru), tuberkulosis ekstra paru (misal: kelenjar limfe, usus, selaput otak, tulang, kulit, dll).
berdasarkan hasil tes BTA: TB paru BTA positif dan TB paru BTA negatif dengan foto thorak gambaran Tuberkulosis.
Berdasarkan proses infeksi: tuberkulosis primer, tuberkulosis pasca primer, dan tuberkulosis milier
Tuberkulosis primer merupakan infeksi/ peradangan awal yang mungkin dapat menimbulkan gambaran radiologi pneumonia, bronkopneumonia, ataupun tuberkuloma. Infeksi ini biasanya terjadi pada anak- anak. Tuberkulosis pasca primer merupakan reinfeksi ulang pada pasien bekas tuberkulosis primer yang telah sembuh. Tuberkulosis milier terjadi saat kuman tuberkulosis menyebar secara hematogen, sekitar 2-6% penderita Tuberkulosis primer berkembang menjadi Tb milier
Proses infeksi Tuberkulosis kedalam tubuh
Paru merupakan pintu masuk infeksi tuberkulosis paling umum. Droplet yang terhirup dapat mencapai alveoli paru karena ukurannya yang sangat kecil. Sistem immunologi non spesifik tubuh akan segera merespon kuman Tuberkulosis yang masuk dengan menghancurkannya. Namun pada sebagian kecil kasus, sistem immunologi tubuh tidak berhasil menghancurkan semua kuman yang masuk sehingga kuman yang tersisa akan bereplikasi menjadi banyak dan membentuk koloni di sekitar tempat tersebut. Masa inkubasi kuman Tuberkulosis biasanya antara 4 – 8 minggu.
Pada masa awal infeksi, kuman tuberkulosis yang sedang berkembang akan menghadapi sistem imunologi tubuh kedua yaitu sistem imun seluler. Proses replikasi akan segera di hentikan dan kuman Tuberkulosis yang berada di alveoli juga dapat dihancurkan. Apabila sistem immunologi seluler ini gagal, maka kuman tuberkulosis akan masuk ke aliran darah dan menyebar secara sistemik.
Kuman Tuberkulosis yang menyebar melalui aliran darah akan mencapai organ otak, tulang, ginjal, dan sebagian kembali ke paru. Di organ -organ tersebut kuman Tuberkulosis akan kembali bereplikasi secara perlahan karena adanya sistem imun seluler yang masih membatasi perkembangan. Bertahun – tahun kemudian saat daya tubuh berkurang, kuman Tuberkulosis mengambil kesempatan menyerang organ terkait, menjadi penyakit seperti meningitis, Tuberkulosis tulang, usus dan lain-lain. Pada bayi, proses ini berlangsung lebih cepat sekitar 2-6 bulan setelah infeksi.
Reaktivasi ini jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada remaja dan dewasa muda. Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang terinfeksi TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang terinfeksi, dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun kemudian. TB ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah infeksi primer.
Faktor resiko
Status gizi
Riwayat imunisasi BCG
Kebiasaan merokok
Usia; pada bayi dan anak lebih rentan terinfeksi
Penyakit HIV/AIDS
Kemiskinan dengan keterbatasan akses ke perawatan kesehatan
Gejala Tuberkulosis
Gejala pada pasien tergantung pada organ yang diderita, pada tuberkulosis kasus baru mungkin memiliki gejala yang tidak khas sehingga akan sulit ditegakkan diagnosis.
Gejala umum:
Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu. Awalnya berupa batuk kering yang berkembang menjadi batuk berdahak kadang disertai darah.
Dahak awalnya sedikit, kemudian berangsur-angsur menjadi banyak berupa dahak mukoid berubah menjadi muko purulent (kuning/ kuning kehijauan) dan berlanjut menjadi dahak yang kental.
Sesak nafas dapat terjadi pada infeksi yang sudah lanjut dengan infiltrat yang menyelimuti setengah bagian paru – paru.
Nyeri dada terjadi bila infiltrat sudah sampai ke rongga pleura yang menyebabkan penyakit pleuritis sehingga terjadi gesekan kedua lapisan pleura.
Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul
Penurunan nafsu makan dan berat badan.
Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”, suara nafas melemah yang disertai sesak.
Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.
Melakukan pemeriksaan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS). Sample sewaktu pertama dilakukan pada hari -1 ketika pasien datang ke pelayanan kesehatan, sample Pagi di kerjakan pada hari ke-2 setelah pasien bangun tidur, dan sample sewaktu kedua diambil pada hari ketiga saat pasien ke fasilitas kesehatan berikutnya.
Pemeriksaan Foto Toraks
Foto thorak digunakan sebagai pendukung pemeriksaan dahak. Pada beberapa kasus terjadi sesak nafas dan komplikasi lainnya juga memerlukan evaluasi foto thorak
Uji Tuberkulin
Uji tuberkulin memiliki efektifitas 90% dan secara luas digunakan untuk screening Tuberkulosis.
Tahap inisial, dengan memberikan 4 – 5 macam obat anti tuberkulosis (OAT) perhari, biasanya obat yang diberikan adalah Rifampisin, Inoziazid, INH, dan pyrazinamid.
Tahap lanjutan. setelah selesai pemberian OAT tahap inisial, kemudian diberikan obat lanjutan berupa kombinasi.
Penilaian Subjektif
Batuk yang cukup
Tidak mendapat terapi agen penghambat neuromuskuler
Tidak adanya sekresi trakea-brokial yang berlebih
Reversal penyebab yang mendasari gagal nafas
Tidak mendapat terapi sedasi terus menerus
Pengukuran objektif
Status kardiovaskular yang stabil
Denyut jantung ≤ 140/ menit
Tidak ada iskemia miocard aktif
Tingkat HB yang memadai (≥8gr/dL
Tekanan darah sistolik 90-160 mmHg
Tidak ada demam (suhu 36-38c)
Tidak ada atau dosis minimal vassopressor dan atau initropik (dosis < 5mikro dopamin/dobutamin)
Oksigensasi yang adekuat
Volume tidal >5mL/kg
Kapasitas vital >10 mL/kg
Upaya inspirasi yang baik
Frekuensinpernafasan ≤35x/mnt
PaO2 ≤60 dan PaCO2 ≤60 mmHg
Tekanan akhir ekspirasi positif (PEEP) ≤8cmH2O
Tidak ada asidosis respiratorik yang signifikan (pH ≥7.30)
Indeks pernafasan dangkal cepat (frekuensi pernafasan/volume tidal) < 105
Perawatan bagi penderita tuberkulosis
Perawatan yang harus dilakukan pada penderita tuberculosis adalah : • Awasi penderita minum obat, yang paling berperan disini adalah orang terdekat yaitu keluarga. • Mengetahui adanya gejala efek samping obat dan merujuk bila diperlukan • Mencukupi kebutuhan gizi seimbang penderita • Istirahat teratur minimal 8 jam per hari • Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada bulan kedua, kelima dan enam • Menciptakan lingkungan rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang baik
Pencegahan penularan tuberkulosis paru
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah : • Menutup mulut bila batuk • Membuang dahak tidak di sembarang tempat. Buang dahak pada wadah tertutup yang diberi lisol • Makan makanan bergizi • Memisahkan alat makan dan minum bekas penderita • Memperhatikan lingkungan rumah, cahaya dan ventilasi yang baik • Untuk bayi diberikan imunisasi BCG (Depkes RI, 2010)
Harisinghani, M. G., McLoud, T. C., Shepard, J.-A. O., Ko, J. P., Shroff, M. M., & Mueller, P. R. (2000). Tuberculosis from Head to Toe. RadioGraphics, 20(2), 449–470. https://doi.org/10.1148/radiographics.20.2.g00mc12449
Nachiappan, A. C., Rahbar, K., Shi, X., Guy, E. S., Mortani Barbosa, E. J., Shroff, G. S., Ocazionez, D., Schlesinger, A. E., Katz, S. I., & Hammer, M. M. (2017). Pulmonary Tuberculosis: Role of Radiology in Diagnosis and Management. RadioGraphics, 37(1), 52–72. https://doi.org/10.1148/rg.2017160032
Apa Itu Hipertiroid (Hipertiroidisme)? Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid terlalu banyak, terutama hormon T3 (triiodotironin) dan T4 (tiroksin). Kelenjar tiroid sendiri berada di bagian depan leher, berbentuk seperti kupu-kupu, dan berperan Read more
Sepsis adalah kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan intervensi segera. Diagnosis dini, resusitasi efektif, dan dukungan nutrisi yang tepat adalah kunci untuk meningkatkan hasil perawatan pasien.
0 Comments