Interpreasi EKG merupakan kemampuan khusus yang tidak semua perawat punya. Untuk melakukan interpetasi EKG, perawat perlu mengetahui anatomi dan sistem kelistrikan jantung, ditambah pengetahuan tentang mesin EKG yang digunakan baik setting mesin maupun kertas yang digunakan. Jika perawat sudah mampu membaca EKG meskipun hanya dasarnya sekalipun, maka perawat ini akan sangat bernilai bagi sebuah rumahsakit.
Anatomi dan Fisiologi Jantung
Jantung merupakan organ muskular yang terletak di ruang antara paru (mediastinum) di rongga tengah dada. Besar jantung seukuran kepalan tangan orang dewasa dan sekitar 2/3 jantung terletak di sebelah kiri garis tengah sternum. Jantung dilapisi membran yang disebut perikardium. Perikardium ini mengelilingi jantung Anda seperti sebuah kantung. Lapisan luar perikardium mengelilingi akar pembuluh darah utama jantung Anda dan dilekatkan oleh ligamen ke tulang belakang, diafragma, dan bagian lain dari tubuh Anda.
Jantung terdiri dari empat ruang yaitu atrium kiri dan kanan, ventrikel kiri dan kanan. Atrium kanan akan menerima darah dari seluruh tubuh melalui vena kava superior dan inferior, darah yang diterima atrium kanan ini memiliki kadar oksigen yang rendah. Darah yang masuk ke atrium kanan selanjutnya akan dipompa ke ventrikel kanan melewati katub trikuspid, kemudian darah ini akan dialirkan ke arteri pulmonalis menuju paru-paru. Terjadi proses pertukaran gas di alveoli yang menghasilkan darah kaya oksigen.
Darah kaya oksigen akan dialirkan ke atrium kiri melalui vena pulmonalis dan selanjutnya ke ventrikel kiri. Dari ventrikel kiri, darah akan di pompa dan dialirkan keseluruh tubuh.
Pasokan darah ke jantung
Jantung memang berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh, namun jantung juga perlu pasokan oksigen dan nutrisi untuk tetap bekerja dengan baik.
Arteri koroner
Arteri koroner terdiri dari arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri.
Arteri koroner kiri (Left main coronary artery-LM) mempunyai dua cabang besar ramus desenden anterior kiri (Left anterior descenden – LAD) dan ramus sirkumfleks (Left circumplec – LCx). Arteri ini melingkari jantung dalam dua lekuk anatomis eksternal yaitu; pertama, sulkus atrioventrikular yang melingkari jantung antar atrium dan ventrikel. kedua, sulkus interventrikel yang memisahkan kedua ventrikel.
Arteri desendens anterior kiri (LAD) bertugas memasok darah ke bagian depan dan bawah ventrikel kiri serta bagian depan septum. Arteri sirkumfleks bertugas memasok darah ke atrium kiri dan samping serta belakang ventrikel kiri.
Arteri koroner kanan (Right coronary artery – RCA) berjalan kesisi kanan jantung pada sulkus atrioventrikurel kanan. Tugasnya memasok darah ke atrium kanan, ventrikel kanan, bagian bawah ventrikel kiri dan belakang septum.
Vena jantung
Sistem vena jantung mempunyai tiga bagian, yaitu:
- Vena tebesian, merupakan sistem terkecil yang menyalurkan sebagian darah dari miokardium atrium dan ventrikel kanan.
- Vena kardiaka anterior, mempunyai fungsi mengosongkan sebagian besar vena ventrikel ke atrium kanan.
- Sinus koronarius dan cabangnya merupakan sistem vena yang paling besar dan penting. Berfungsi menyalurkan pengembalian darah vena miokard ke dalam atrium kanan melalui ostium sinus koronarius yang bermuara disamping vena kava inferior.
Sistem elektrofisiologi jantung
Sistem konduksi jantung adalah sistem yang mengatur irama dan kecepatan kontraksi otot jantung. Sistem ini terdiri dari beberapa bagian yang menghasilkan dan menghantarkan sinyal listrik ke seluruh jantung. Sinyal listrik ini menyebabkan jantung berkontraksi secara teratur dan terkoordinasi, sehingga dapat memompa darah ke seluruh tubuh.
Berikut adalah bagian-bagian dari sistem konduksi jantung dan fungsinya:
Sinoatrial (SA) Node: adalah bagian yang menghasilkan sinyal listrik pertama. SA Node berada di dinding atrium kanan (ruang atas jantung) dan berfungsi sebagai pacemaker alami jantung. Sinyal listrik dari SA node merangsang atrium kanan dan kiri untuk berkontraksi, mendorong darah ke ventrikel (ruang bawah jantung). SA node mengatur ritme jantung berkisar pada 60-100 x/menit dengan mempertahankan kecepatan depolarisasi.
Atrioventrikular (AV) Node: adalah bagian yang menerima sinyal listrik dari nodus SA dan menundanya sejenak. Nodus AV berada di septum (dinding pemisah) antara atrium kanan dan kiri. Penundaan ini memungkinkan ventrikel memiliki waktu untuk mengisi darah sebelum berkontraksi serta memproteksi ventrikel dari stimulasi berlebihan atrium seperti pada atrial fibrilasi. AV Node akan menghasilkan impuls 40-60 x/menit.
Berkas (bundle) His: adalah bagian yang menghubungkan nodus AV dengan cabang-cabang berkas. Berkas His berjalan di sepanjang septum antara ventrikel kanan dan kiri.
- Cabang-cabang berkas: adalah bagian yang membagi sinyal listrik dari berkas His ke dua arah, cabang berkas kanan mengirim impuls ke ventrikel kanan dan cabang berkas kiri mengirim impuls ke ventrikel kiri. Cabang-cabang berkas berakhir di serabut Purkinje.
- Serabut Purkinje: Ini adalah bagian yang menyebarluaskan sinyal listrik ke seluruh miokardium (lapisan otot) ventrikel. Serabut Purkinje menyebabkan ventrikel kanan dan kiri berkontraksi secara bersamaan, memompa darah ke paru-paru dan tubuh.
Aksi potensial jantung
Aksi potensial dibagi menjadi 5 fase
Fase 0 , depolarisasi cepat: terjadi pemasukan cepat Na+ dari luar sel ke dalam sel melalui saluran Na+. Ion K+ bergerak ke luar sel dan Ca++ bergerak lambat masuk kedalam sel melalui saluran Ca++. Sel akan terdepolarisasi dan dimulailah kontraksi jantung yang ditandai dengan kompleks QRS pada EKG. Selanjutnya terjadi repolarisasi segera yang terdiri dari tiga fase
Fase 1 , Repolarisasi dini: saluran Na+ akan menutup sebagian, memperlambat aliran Na+ kedalam sel. Pada saat bersamaan, Cl– masuk kedalam sel dan K+ keluar melalui saluran K+. Alhasil terjadi penurunan jumlah sel positif dalam sel yang menimbulkan gelombang defleksi negatif pada kurva aksi potensial.
Fase 2 , fase plateu: terjadi pemasukan lambat Ca++ ke dalam sel melului saluran Ca++. Ion K terus keluar dari sel melalui saluran K+. Fase ini ditandai dengan segmen ST pada EKG.
Fase 3 , repolarisasi cepat akhir: terjadi downslope aksi potensial, dimana K+ bergerak cepat keluar sel. Saluran Ca++ dan Na+ tertutup sehingga Ca++ dan Na+ tidak bisa masuk ke dalam sel. Pengeluaran cepat K+ menyebabkan suasana elektrik didalam sel menjadi negatif. Hal ini menjelaskan terjadinya gelombang T (repolarisasi ventrikel) pada EKG. Jika saluran K+ dihambat, terjadi pemanjangan aksi potensial.
Fase 4 , Resting membrane potential: kembali pada keadaan istirahat, Na+ dijumpai banyak dalam sel, serta K+ banyak diluar sel. Pompa Na+ K+ akan diaktivasi untuk mengeluarkan Na+ dan memasukkan K+ ke dalam sel. Jantung mengalami polarisasi (siap untuk stimuli berikutnya).

Elektrokardiogram dan Elektrokardiografi
Pengertian elekrokardiogram adalah grafik yang menggambarkan rekaman listrik jantung, sedangkan elektrokardiografi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas listrik jantung. Secara sederhana dapat dipahami bahwa elektrokardiogram(EKG) adah kertas hasil perekaman EKG dan elekrokardiogrami adalah saat kita menginterpretasikan bacaan dari rekaman tersebut.
Fungsi EKG diantaranya untuk mendeteksi:
- Aritmia jantung
- Hipertrofi atrium dan ventrikel
- Iskemik dan infark miokard
- Efek obat – obatan seperti (digitalis, anti aritmia dll)
- Gangguan keseimbangan elektrolit khususnya kalium.
- Penilaian fungsi pacu jantung.
Sadapan EKG
Sadapan bipolar
Yaitu merekam perbedaan potensial dari dua elektroda, sadapan ini ditandai dengan angka romawi I, II, dan III
- Sadapan I untuk merekam bedapotensial antara tangan kanan (RA) dan tangan kiri (LA) dimana tangan kanan bermuatan (-) dan tangan kiri (+).
- Sadapan II untuk merekam beda potensial antara tangan kanan (RA) dengan kaki kiri (LF), dimana kaki tangan kanan bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan(+).
- Sadapan III untuk merekam beda potensial antara tangan kiri (LA) dengan kaki kiri (LF), dimana tangan kiri bermuatan (-) dan kaki kiri bermuatan (+).

Sadapan Unipolar
Sadapan unipolar terbagi menjadi sadapan unipolar ekstremitas dan sadapan unipolar prekordial.
Sadapan unipolar ekstremitas
Sadapan unipolar ekstremitas untuk merekam besar potensial listrik pada satu ekstremitas, elektroda eksplorasi diletakkan pada ekstremitas yang mau diukur. Gabungan elektroda-elektrodapada ekstremitas yang lain membentuk elektroda indiferen (potensial 0).
Sadapan aVR , merekam potensial listrik pada tangan kanan (RA) dimana tangan kanan bermuatan (+), tangan kiri dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sadapan aVL , merekam potensial listrik pada tangan kiri (LA) dimana tangan kiri bermuatan (+), tangan kanan dan kaki kiri membentuk elektroda indiferen.
Sadapan aVF , merekam potensial listrik pada kaki kiri (LF) dimana kaki kiri bermuatan (+) tangan kanan dan tangan kiri membentuk elektroda indiferen.
Sadapan unipolar prekordial
Sadapan unipolar prekordial merekam besarpotensial listrik jantung dengan bantuan elektroda eksplorasi yang ditempatkan di beberapa dinding dada. Elektroda indiferen diperoleh dengan menggabungkan ketiga elektroda ekstremitas. Letak sadapan unipolar prekordial:
V1 di ruang interkostal IV garis sternal kanan
V2 di ruang interkostal IV garis sternal kiri
V3 di pertengahan antara V2 dan V4
V4 di ruang interkostal V garis midclavikula kiri
V5 sejajar V4 di garis aksila depan
V6 sejajar V5 di garis aksila tengah
Umumnya perekaman EKG lengkap dibuat 12 sadapan (lead), akan tetapi pada keadaan tertentu perekaman dibuat sampai dengan V7,V8, dan V9 atau V3R dan V4R.

Kertas EKG
Kertas EKG adalah kertas grafik yang merupakan garis horizontal dan garis vertikal dengan jarak 1mm = 1 kotak kecil (KK). Garis yang lebih tebal terdapat pada setiap 5mm = 5 KK = 1 kotak besar (KB).

Garis horizontal menunjukkan waktu, dimana 1 kotak kecil (KK) = 0,04 detik, ini didapatkan karena standar perekaman EKG adalah 25 mm/detik dan 1 KK = 1 mm.
Jadi 1 KK = 1 mm = 0,04 detik
sehingga jika 5 KK menjadi = 0,20 detik = 1 kotak besar (KB)
25 kotak kecil (KK) = 1 detik = 5 Kotak besar(KB)
150 kotak kecil (KK) = 6 detik = 20 Kotak besar(KB)
1500 kotak kecil (KK) = 60 detik = 300 Kotak besar(KB)
Garis vertikal menggambarkan voltage, diman 1 kotak kecil (KK) = 0,1 mv. Nilai 0,1 didapatkan karena standar perekaman EKG menggunakan kekuatan atau lebih dikenal dengan kalibrasi 1 dengan tanda garis defleksi positif 10 mm atau 10 kotak kecil atau 2 kotak besar.
Kurva EKG
Kurva EKG menggambarkan proses listrik yang terjadi pada atrium dan ventrikel. EKG normal terdiri dari gelombang P,Q,R,S dan T serta kadang terlihat gelombang U.
Gelombang P
Gelombang P merupakan gambaran proses depolarisasi atrium. Gelombang P yang normal mempunyai ciri:
- lebar < 0,12 detik dan selalu positif di Lead I
- tinggi < 0,3 mv dan selalu negatif di Lead aVR

Gelombang QRS
Gelombang QRS merupakan gambaran depolarisasi ventrikel, gelombang QRS yang normal mempunyai ciri:
- lebar 0,06 – 0,12 detik
- untuk tinggi nya tergantung Lead

Gelombang Q
Gelombang Q adalah defleksi negatif pertama pada gelombang QRS, normalnya:
- lebar 0,04 detik
- tinggi/ dalamnya < ⅓ tinggi R
Gelombang R
Gelombang R adalah defleksi positif pertama pada gelombang QRS, umumnya positif di Lead I, II, V5 dan V6. Sedangkan di Lead aVR, V1, V2 biasanya kecil atau tidak ada.
Gelombang S
Adalah defleksi negatif setelah gelombang R, di Lead aVR dan V1 gelombang S terlihat dalam. Dari V2 ke V6 gelombang S akan terlihat makin lama makin menghilang.

Gelombang T
Gelombang T merupakan proses repolarisasi ventrikel, gelombang T positif di Lead I,II, V3 sampai V6 dan terbalik di aVR.

Gelombang U
Adalah gelombang yang timbul sebelum gelombang T dan sesudah gelombang P berikutnya. Penyebab timbulnya gelombang U masih belum diketahui namun diduga akibat repolarisasi lambat sistem konduksi intraventrikel.
Interval PR
Interval PR dihitung dari permulaan gelombang P sampai permulaan gelombang QRS. nilai normal berkisar antara 0,12 s.d. 0,20 detik. Ini merupakan waktu yang dibutuhkan untuk depolarisasi atrium dan jalannya impuls melalui berkas His sampai permulaan depolarisasi ventrikel.

Segmen ST
Segmen ST diukur dari akhir gelombang S sampai awal gelombang T, Segmen ini normalnya isoelektris tetapi pada lead prekordial bervariasi antara -0,5 sampai +2mm
Cara Interpretasi EKG
Cara menilai EKG lengkap:
- Tentukan apakah denyut jantung berirama teratur atau tidak.
- Tentukan berapa frekuensi jantung (HR).
- Tentukan gelombang P apakah normal atau tidak.
- Tentukan irama PR normal atau tidak.
- Tentukan gelombang QRS normal atau tidak.
- Interpretasi.
Langkah pertama, menentukan irama denyut jantung teratur atau tidak
>> menghitung jarak gelombang R ke R berikutnya dengan kotak kecil atau kotak besar, bila sama artinya teratur bila tidak sama artinya tidak teratur.
Langkah kedua, menentukan frekuensi jantung
Cara satu dengan kotak besar (KB)
Cara dua dengan kotak kecil (KK)
Cara tiga, ambil EKG strip sepanjang 6 detik dan hitung jumlah QRS kemudian kalikan 10

Menentukan sumbu aksis jantung
Tentukanlah jumlah dari defleksi pada masing-masing sadapan (gelombang R dikurangi gelombang S) kemudian ilustrasikan sebagai vektor pada masing-masing sumbu. Dari kedua vektor ini dapat dibuat resultan yang menggambarkan sumbu QRS.

Aksis normal terletak antara -30 s.d. +110 derajat.
Deviasi aksis ke kiri (LAD) antara -30 s.d. -90 derajat
Deviasi aksis ke kanan (RAD) antara +110 s.d. -180 derajat

0 Comments